Apa yang dimaksud dengan Railway Systems?

Railway Systems atau Sistem Kereta Api atau Sistem Perkeretaapian yang dimaksud dalam blog ini adalah beberapa sistem dari Perkeretaapian di Indonesia yang berhubungan dengan Fasilitas Pengoperasian Kereta Api (Fasop KA) berupa perangkat keras (hardware) dan piranti lunak (software) yang terdapat dalam ruang lingkup Sinyal, Telekomunikasi dan Listrik (sesuai UU Nomor 23 Tahun 2007, Pasal 59) ditambah dengan sistem AFC (Automatic Fare Collection) dan PSD (Platform Screen Doors). Dimana Perkeretaapian adalah satu kesatuan sistem yang terdiri atas prasarana, sarana, dan sumber daya manusia, serta norma, kriteria, persyaratan, dan prosedur untuk penyelenggaraan transportasi kereta api (sesuai UU Nomor 23 Tahun 2007, Pasal 1 ayat 1). Sehingga di dalam blog ini yang akan kita bicarakan adalah seputar prasarana perkeretaapian selain Jalur Kereta Api dan Stasiun Kereta Api, atau penulis sebut dengan istilah Fasop KA Plus berupa sistem-sistem Sintelis ditambah dengan sistem AFC dan PSD (Sintelis Plus) yang meliputi :

  1. Substation System (SBS)
  2. Overhead Contact System (OCS)
  3. Third Rail System (TRS)
  4. Power Distribution System (PDS)
  5. Signaling System (SIG)
  6. Telecommunication System (TEL)
  7. Facility SCADA (FSC)
  8. Automatic Fare Collection System (AFC)
  9. Platform Screen Doors (PSD)

Adapun penjelasan untuk masing-masing sistem dari Railway Systems (Sintelis Plus) yang dimaksud di atas adalah sebagai berikut :
1. Substation System (SBS) atau Sistem Gardu Listrik adalah bagian dari sistem pembangkit, transmisi dan distribusi listrik. Gardu listrik mengubah tegangan listrik dari tinggi menjadi rendah, atau sebaliknya, atau untuk menjalankan beberapa fungsi penting lainnya. Saat ini gardu listrik yang digunakan untuk KRL, LRT dan MRT Jakarta berfungsi untuk mentransformasikan daya listrik dari tegangan tinggi (150KV/ 70KV) ke tegangan menengah (20KV) dengan frekuensi tetap 50 Hertz. Khusus gardu listrik pada kereta MRT Jakarta terdiri dari 3 jenis, yaitu :

  • Receiving Substation (RSS), dimana RSS menerima pasokan masuk dari 150 KV Power Grid PLN dan mengubah pasokan menjadi 20 KV untuk distribusi daya ke sistem MRT Jakarta.
  • Traction Substation (TSS) atau disebut juga dengan Gardu Listrik Aliran Atas (LAA), dimana TSS menerima pasokan 20 KV dari RSS dan mengkonversi 20 KV ke 1500 V DC untuk memberi catu daya traksi ke sistem MRT Jakarta.
  • Service Substation (SSS), dimana SSS menerima 20 KV dari RSS dan mentransformasikannya menjadi 380-220 V AC di ruang peralatan listrik di setiap stasiun dan depot untuk memasok peralatan tersebut.
GITET 500 KV Lengkong 

2. Overhead Contact System (OCS) atau Sistem Listrik Aliran Atas (LAA) adalah sistem yang menghantarkan energi listrik untuk kereta api. KRL dan MRT Jakarta memperoleh arus listrik dari LAA menggunakan perangkat yang disebut dengan pantograf. Pantograf menekan sisi bawah kabel LAA, yakni kabel kontak. Alat tersebut sangat konduktif dan dapat mengalirkan arus ke KRL/ MRT Jakarta dan kembali ke gardu LAA melalui roda baja pada salah satu atau kedua rel. Terdapat 2 (dua) jenis OCS yang digunakan pada MRT Jakarta yaitu Simple Catenary System (SCS) untuk depo dan jalur layang, serta Rigid Suspension System (RISS) untuk area bawah tanah.

3. Third Rail System (TRS) atau Sistem Rel Ketiga atau Sistem Listrik Aliran Bawah (LAB) adalah sarana penyediaan tenaga listrik bertraksi untuk kereta api, dan ia menggunakan rel tambahan (disebut “rel konduktor”). Pada umumnya, rel konduktor ditempatkan pada sisi luar jalur kereta, tetapi dalam beberapa kasus rel konduktor ditempatkan di tengah-tengah jalur kereta. Rel konduktor ditunjang oleh isolator keramik (dikenal sebagai “pot”), yang biasanya pada interval sekitar 10 kaki (3 meter).
Keretanya memiliki sebuah kontak logam yang disebut “shoes” (atau “contact shoes”, Indonesia: bantalan kereta) yang bersentuhan langsung dengan rel konduktor. Traksi listrik dikembalikan langsung ke stasiun pembangkit melalui jalur kereta. Konduktor kereta api biasanya terbuat dari baja berkonduktivitas tinggi, dan jalur kereta yang terhubung elektris menggunakan kawat obligasi atau perangkat lain, untuk meminimalisir resistensi di sirkuit listrik.Rel konduktor harus tidak digunakan di perlintasan kereta api dan pada persimpangan rel karena alasan keselamatan, dan sebuah lekukan harus disediakan di setiap ujung bagian untuk memberikan kelancaran transisi ke logam bantalan kereta.Posisi kontak antara kereta api dan rel ketiga bervariasi: beberapa sistem awal menggunakan kontak atas, tetapi dalam perkembangannya menggunakan kontak sisi atau kontak bawah, yang memungkinkan rel konduktor dapat diselimuti, melindungi para pekerja rel dari kontak yang tidak disengaja dan melindungi rel konduktor dari salju dan guguran daun.

4. Power Distribution System (PDS) atau Sistem Distribusi Tenaga Listrik didefinisikan sebagai bagian dari sistem tenaga listrik yang menghubungkan gardu induk/ pusat pembangkit listrik dengan konsumen. Sedangkan jaringan distribusi adalah sarana dari sistem distribusi tenaga listrik di dalam menyalurkan energi ke konsumen. Dalam menyalurkan tenaga listrik ke pusat beban, suatu sistem distribusi harus disesuaikan dengan kondisi setempat dengan memperhatikan faktor beban, lokasi beban, perkembangan di masa mendatang, keandalan serta nilai ekonomisnya. Contoh Sistem Distribusi Tenaga Listrik pada MRT Jakarta adalah untuk mendistribusikan tenaga listrik ke stasiun dan depo. Sistem ini mencakup penyaluran tenaga listrik dengan tegangan 20 kV (keluaran dari RSS) ke setiap stasiun dan depo, lalu diubah menjadi tegangan rendah 380V/220V. Sistem kelistrikan MRT didukung oleh penyulang ganda untuk meningkatkan keandalan system.

One thought on “Apa yang dimaksud dengan Railway Systems?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *